Sekarang ini ada banyak framework untuk membuat web, mulai dari CMS yang sudah ada sejak lama seperti Wordpress, Joomla, dan Drupal hingga framework baru yang mengadopsi standar web modern seperti React, Vue, Angular, Gatsby, dan Hugo. Dengan dukungan JavaScript yang semakin luas ditambah dengan komunitasnya yang semakin besar, JavaScript saat ini menjadi salah satu bahasa pemrograman yang banyak disukai oleh developer.

Perubahan ini mendorong berbagai stack dan metode baru untuk menghadirkan aplikasi yang lebih cepat dibuat, lebih mudah dimaintain, dan memiliki performa yang lebih tinggi. Munculnya metode seperti PWA dan hybrid apps membuat aplikasi web semakin fleksibel dan mendekati aplikasi native.

Perkembangan Teknologi Website

Jika kita melihat kembali ke tahun 2012, sebagian besar web masih menggunakan server-side processing/rendering (SSR) yang artinya proses render atau pembuatan tampilan web dilakukan oleh server atau backend. Hal ini menyebabkan web tradisional memerlukan proses navigasi atau refresh sebelum dapat memunculkan data baru. Hal ini kemudian ditangani oleh library AJAX jQuery dan menjadi standar yang cukup lama untuk melakukan proses asinkron (asynchronous) pada frontend. Artinya user tidak perlu menunggu halaman web untuk menampilkan data baru setelah refresh, melainkan user dapat tinggal di halaman tersebut dan bahkan melakukan interaksi dan navigasi tanpa perlu menunggu respon dari backend.

Konsep ini sekarang sudah banyak diimplementasikan untuk meningkatkan pengalaman user yang mengunjungi website kita, khususnya untuk menyediakan web yang tidak membutuhkan waktu lama untuk dimuat oleh user dan dapat interaktif tanpa perlu menunggu backend memberikan respons, dan bahkan bisa membuat web apps yang bisa diakses ketika komputer dalam kondisi offline.

Selain itu, sekarang ini banyak pula framework dan tools untuk membuat static site atau laman/web statis. Berkembangnya tren website statis merupakan hasil dari perkembangan teknologi di atas dan usaha untuk meningkatkan pengalaman user saat menggunakan website. Dengan menggunakan aset statis, website dapat sepenuhnya disimpan dalam cache dan dapat lebih cepat diakses oleh user. Selain memberikan user pengalaman yang lebih menyenangkan di website kita, sebagai perusahaan yang meng-hosting web pun mendapat keuntungan yaitu biaya komputasi server yang berkurang dan bandwidth yang lebih sedikit ke server karena website kita bisa sepenuhnya dikirim melalui CDN.

Pola-pola desain dan arsitektur website modern seperti ini banyak dikenal sebagai Jamstack.

Apa itu Jamstack?

JAM merupakan singkatan dari JavaScript, API, & Markup.

Jika kita breakdown, sebuah sistem yang mengikuti Jamstack akan memiliki tiga komponen yaitu JavaScript, API, dan Markup.

  • JavaScript, bertugas untuk menangani interaksi user pada web menggunakan library atau framework apapun.
  • API, operasi pada sisi server yang disajikan dalam bentuk API agar dapat digunakan oleh web melalui HTTP (misalnya REST).
  • Markup, web bisa disajikan sebagai static site, misalnya membuat website dari Markdown menggunakan Static Site Generator seperti Hugo dan Jekyll.

Nah dari definisi di atas kita bisa simpulkan bahwa website modern dapat menangani interaksi user pada sisi klien tanpa perlu di-render dari server, sehingga website yang dibuat menjadi lebih responsif dan interaktif.

Pada Jamstack website dibangun oleh dua komponen utama, yaitu:

  • Frontend yang merupakan website yang dibuat interaktif seperti SPA atau PWA atau website statis yang dibuat menggunakan Static Site Generator atau dibuat sendiri dari awal. Intinya frontend yang dibuat terpisah dari sisi server dan tidak terjadi proses apapun untuk menampilkan frontend. Misalnya untuk menampilkan sebuah tabel, kita tidak lagi merender tabel tersebut pada server, melainkan frontend kita akan melakukan HTTP request ke API pada backend dan merender datanya pada browser untuk menampilkan isi tabelnya.
  • Backend merupakan bagian dari sistem yang bertugas untuk memproses data dan permintaan dari frontend. Jika kita bandingkan dengan framework seperti Laravel dan CI, maka backend ini adalah bagian Controller pada arsitektur MVC. Pada Jamstack, tugas backend adalah memproses permintaan dari frontend tanpa melakukan render data yang diberikan. Hal ini membuat proses data lebih cepat dan memberikan fleksibilitas integrasi yang lebih luas ke sistem lain dan pihak ketiga.

Bisa disimpulkan, dengan menggunakan model Jamstack, kita membuat dua aplikasi yang berbeda dan tidak saling memiliki ketergantungan. Saat kita membuat perubahan pada frontend, maka backend tidak perlu diubah karena perubahan tersebut terisolasi pada frontend. Dengan demikian, proses kolaborasi dan pengembangan sistem dapat dilakukan lebih cepat.

Beberapa keuntungan menggunakan Jamstack yaitu:

  1. Performa aplikasi yang lebih cepat, karena user bisa menggunakan web kita seperti halnya aplikasi native yang bahkan bisa di cache dan di load dalam sekejap.
  2. Keamanan yang lebih tinggi karena penggunaan API sekarang tidak terikat dengan endpoint backend dan memiliki keamanan yang lebih tinggi karena aksesnya diatur oleh klien.
  3. Biaya server yang lebih murah karena tidak membutuhkan banyak CPU dan RAM, kita bahkan bisa menggunakan CDN untuk meng-host website Jamstack. Ingat web Jamstack tidak memiliki pemrosesan pada server sehingga bisa disajikan melalui CDN murni.
  4. Lebih mudah untuk dikembangkan oleh developer karena sekarang frontend tidak terikat dengan backend, keduanya bisa saling bekerja mengikuti kontrak API antara kedua sistem.

Wah ternyata banyak ya manfaat dari Jamstack! Blog Kodesiana.com juga saat ini sudah menggunakan Jamstack, lho! Sejak awal Maret 2021 penulis mengubah website Kodesiana.com menggunakan model Jamstack menggunakan tool Hugo dan tema Fuji. Meskipun penulis bukan frontend developer, menggunakan Hugo bukanlah suatu proses yang membutuhkan waktu banyak untuk belajar, cukup ikuti tutorial dan template dan cling… web kamu bisa langsung jadi dalam lima menit.

Apa itu Serverless?

Serverless merupakan model cloud service yang menyediakan jasa komputasi bagi kliennya saat dibutuhkan saja (on-demand), sehingga proses komputasi yang dilakukan lebih efisien dan lebih murah. Model ini banyak digemari oleh developer karena harganya yang ekonomis dan lebih mudah untuk dikembangkan karena sifatnya yang berdiri sendiri/standalone dan tidak terikat kondisi data (stateless).

Misalnya kamu ingin membuat sebuah API untuk menerima isian form, daripada harus membuat full blown backend app “backend beneran yang menggunakan pola MVC/CRUD lengkap dengan akses database, controller, otentikasi, dan lainnya” akan lebih mudah kalau kamu cukup membuat sebuah API yang menerima data JSON kemudian menyimpannya ke database dengan otentikasi Basic, tidak perlu membuat full backend misalnya menggunakan Laravel untuk menyimpan data dari sebuah form saja.

Functions dan Lambda Apps

Salah satu layanan yang ditawarkan oleh banyak penyedia jasa cloud adalah Functions (Azure Function) dan Lambda (AWS Lambda), yaitu layanan untuk mengeksekusi kode tertentu tanpa perlu mengurusi arsitektur rumit dibelakangnya. Misal kita ambil contoh API untuk menyimpan data dari form ke database.

Pada aplikasi backend biasa, kita mungkin akan membuat sistem seperti ini:

Website -> Form POST -> Backend (Laravel/CI/ExpressJS/ASP.NET) -> Database

Jika kita menggunakan aplikasi backend biasa, kita perlu membuat deployment untuk merilis kode dari SCM ke apps service di cloud, kemudian perlu membuat kode yang cukup panjang juga untuk mengikuti pola seperti MVC hingga bisa akses ke database. Tapi jika fungsi yang digunakan hanya satu yaitu menyimpan data dari form, punya sebuah backend khusus akan menjadi overkill, karena fungsi yang sederhana tadi harus running di atas server dan biayanya pun akan sama seperti aplikasi backend lain yang lebih kompleks.

Dengan menggunakan layanan serverless, kita bisa buat sistem seperti ini:

Website -> Form POST -> Functions -> Database

Skemanya masih sama, tapi perbedaan utamanya adalah pada aplikasi stateless dan serverless khususnya pada Functions App, kita tidak perlu membuat kode backend yang panjang sebagai sebuah project, tapi kita cukup menggunakan potongan kode yang digunakan untuk menyimpan data langsung ke database, tanpa perlu membuat kode untuk mengatur routing dan proses lain pada backend biasa.

Selain itu, Function app yang kita buat hanya akan dikenakan biaya selama aplikasinya berjalan, artinya jika fungsi yang kita buat tidak digunakan, maka aplikasi kita tidak dikenakan biaya. Dengan kata lain, dengan menggunakan Functions, kita bisa menghemat waktu untuk membuat suatu API dan juga menghemat biaya penggunaan layanan cloud.

Nah kalau kamu punya banyak API yang bersifat stateless, kamu mungkin ingin mencoba untuk beralih ke layanan serverless seperti Azure Functions dan AWS Lambda untuk API kamu karena harganya yang lebih murah dan juga lebih cepat.

Jamstack + Serverkess?

Wah kita sudah belajar banyak mengenai Jamstack dan Serverless, mungkin kamu belum melihat benang merah mengenai hubungan Jamstack dan Severless, sekarang waktunya kita recap kenapa Jamstack sangat cocok dengan layanan Serverless.

Misalnya kita akan membuat sebuah blog menggunakan model Jamstack. Blog ini harus memiliki fungsi blog pada umumnya seperti manajemen posting dan terdapat form untuk mengirim tanggapan dari user. Bagaimana cara membuat blog tersebut menggunakan Jamstack dan Serverless?

Kita akan ambil contoh blog Kodesiana.com

Kodesiana.com dibuat menggunakan Hugo, yaitu suatu tool untuk membuat static site dari file Markdown. Selain itu, Kodesiana.com juga punya form untuk mengirim feedback (saat ini masih dalam proses develop).

Penulis menggunakan workflow sebagai berikut.

  1. Manajemen artikel: ketik dalam format Markdown -> Commit ke GitHub -> CI/CD ke Azure Static Web Apps.
  2. Form feedback: website -> Form POST -> Azure Functions -> Azure Cosmos DB.

Dengan menggunakan layanan GitHub, GitHub Actions, Azure Static Web Apps, Azure Functions, dan Azure Cosmos DB, penulis tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya layanan SCM dan deployment, karena semua layanan tersebut memiliki free tier yang bisa digunakan oleh semua orang.

Jika penulis menggunakan model web tradisional, maka penulis pasti akan perlu membayar untuk Azure AppService, karena backend biasa harus berjalan di atas server yang aktif diatur sendiri.

Misalnya kita ingin menambahkan fitur baru di website kita, maka kita hanya perlu membuat Functions baru di cloud provider yang kita gunakan dan fitur tersebut bisa langsung live dalam hitungan detik dan tidak akan memengaruhi fungsi lain yang sudah kita buat karena Functions bersifat terisolasi.

Wah menarik ya, gimana caranya tuh?

Penulis akan lanjutkan tulisan ini di pekan depan atau mungkin dua pekan lagi karena penulis akan melaksanakan UTS. Nanti kita akan belajar cara menggunakan tool Hugo, GitHub, dan Azure untuk membuat website Jamstack.

Stay tuned ya teman-teman!

Referensi

  1. Netlify. 2021. Jamstack (https://jamstack.org/). Diakses 18 April 2021.
  2. Duarte, Pedro. 2019. Jamstack (https://jamstack.wtf/). Diakses 18 April 2021.